12 Warga Palestina Tewas dalam Unjuk Rasa di Gaza

12 Warga Palestina Tewas dalam Unjuk Rasa di Gaza

Petugas menembakkan gas air mata terhadap pengunjuk rasa di seberang pagar pengaman di Gaza. (foto - Associated Press)

Gaza Gelombang para pengunjuk rasa di seberang pagar pengaman tidak surut, meski petugas menembakkan gas air mata. Sejumlah sumber Palestina di Gaza mengatakan, sediktinya 12 pengunjuk rasa tewas ditembak aparat keamanan Israel, dan sekitar 750 lainnya cedera dalam aksi protes di kawasan perbatasan dengan Israel itu.
Warga Palestina memulai aksi unjuk rasa massal, yang rencananya akan berlangung selama enam pekan. Sebagian pengunjuk rasa melempari batu dan bom botol. Militer Israel melaporkan terjadi kerusuhan di enam tempat dan mereka 'melepas tembakan ke arah para penghasut utama'.
Seperti dilansir BBC, Jumat (30/3/2018) gas air mata ditembakkan untuk membubarkan pengunjuk rasa di seberang pagar pengaman. Otorita Kesehatan Gaza menyebutkan, salah seorang korban jiwa adalah remaja berusia 16 tahun, Ahmed Ouda yang ditembak di sebelah utara Kota Gaza.
Beberapa jam sebelum unjuk rasa berlangsung, pihak berwenang Palestina sudah menyatakan, seorang petani Palestina tewas kena tembakan tank Israel di dekat kota Khan Yunis di perbatasan selatan Gaza. Militer Israel mengatkan terjadi kerusuhan di enam tempat.
Petani itu yakni Omar Samour (27) yang menurut saksi mata sedang bekerja di lahan pertaniannya ketika tembakan mengenainya. Seorang lainnya yang bekerja bersama Samour dilaporkan menderita luka tembak. Israel memperingatkan para pengunjuk rasa Palestina, agar tidak mendekati pagar pengaman di perbatasan Gaza.
Berdasarkan keterangan pihak militer Israel. satu tank melepas tembakan atas dua tersangka yang melakukan kegiatan mencurigakan di dekat pagar pengamanan. Israel mengerahkan tambahan pengamanan di perbatasan, antara lain lebih dari 100 penembak jitu- karena kekhawatiran aksi unjuk masa akan berupaya menerobos pagar pengaman.
Ribuan warga Palestina termasuk kaum perempuan dan anak-anak, menggelar aksi unjuk rasa dan beberapa sudah mendirikan tenda untuk bertahan selama enam pekan. Unjuk rasa warga Palestina yang disebut Pawai Besar Kepulangan rencananya akan berlangsung hingga pertengahan Mei yang akan berlangsung hingga 15 Mei, hari peringataan Nakba atau bencana.
Militer Israel sudah melarang pergerakan di sepanjang perbatasan Gaza, dengan alasan keamanan dan memperingatkan warga Palestina tidak mendekati pagar pengaman. Perempuan dan anak-anak ikut meramaikan unjuk rasa itu. Kelompok Hamas, yang menguasai Jalur Gaza menuduh Israel mengintimidasi warga Palestina dengan menewaskan petani dan meminta agar tidak ikut serta dalam unjuk rasa.
Sementara Kementerian Luar Negeri Israel berpendapat, aksi unjuk rasa merupakan 'upaya yang disengaja untuk memprovokasi konfrontasi dengan Israel' dan 'tanggung jawab atas setiap bentrokan semata-mata terletak pada Hamas dan organisasi Palestina lain yang berpartisipasi'. Israel mengerahkan pasukan tambahan ke perbatasan untuk menghadapi aksi unjuk rasa Palestina.
Pemerintah Washington merencanakan pembukaan kedutaan besarnya pada 14 Mei, bersamaan dengan 70 tahun berdirinya Israel. Negara Israel berdiri pada 14 Mei tahun 1948 namun sebenarnya pada Iyar 5 tahun 1948 berdasarkan kalender Ibrani, yang tahun ini jatuh pada 20 April. (Jr.)**

.

Categories:Internasional,
Tags:,