Dosen ITB Ciptakan Pemanis Alami dari Bahan Daun Stevia

Dosen ITB Ciptakan Pemanis Alami dari Bahan Daun Stevia

Tanaman Stevia. (foto - ist)

Bandung - Tim peneliti dosen  Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung  (SF-ITB)  berhasil  mengembangkan pemanis alami buatan dari daun Stevia. Daun dan herba tanaman Stevia mengandung senyawa yang memiliki rasa manis (glikosida steviol atau GS) dengan kadar tinggi.
 
Pemanis itu merupakan bagian penelitian dengan topik "Pengembangan Proses Produksi Pemanis Alami Glikosida Steviol (Stevia) dari Daun Tanaman Stevia" yang melibatkan tim peneliti. Terdiri atas Dr.rer.nat. Rahmana Emran Kartasasmita, M.Si,. Apt., Dr. Elfahmi, M.Si., Apt., Dr. Muhammad Insanu, M.Si., Apt., dan Dr. Asari Nawawi, M.Si., Apt.
 
Salah seorang peneliti, Rahmana Emran Kartasasmita dalam siaran pers Direktorat Humas dan Publikasi ITB di Bandung, Selasa (10/7/2018) mengatakan, kemanisan senyawa GS mencapai 300 kali lipat dari gula.
 
Dengan demikian, GS yang diperoleh melalui ektraksi daun dan herba tanaman Stevia itu banyak digunakan sebagai pemanis alami penyubstitusi gula, khususnya bagi yang memerlukan asupan kalori rendah.

Ia mengatakan, GS sebagai pemanis alami sudah lama digunakan dan dinyatakan aman oleh Codex Alimentarius Commission (CAC), sebagai organisasi international di bawah FAO dan WHO yang mengeluarkan berbagai standar dalam bidang pangan.

Namun, di Indonesia pemanis alami itu masih sepenuhnya diimpor. Padahal, tanaman bernama latin Stevia rebaudiana Bertoni itu bisa hidup dan cocok untuk ditanam di dataran tinggi di Indonesia, seperti di daerah Ciwidey Kabupaten Bandung.

Sejauh ini, belum ada satu pun industri di Indonesia yang melakukan ekstraksi daun Stevia, dan memproduksi GS sebagai pemanis alami pada skala komersial. Sebagai pemanis intensitas tinggi (high intense sweetener), GS memiliki tingkat kemanisan tinggi, sehingga pada kadar rendah sudah mampu memberikan rasa manis yang memadai.
 
Sebagai ilustrasi katanya, untuk memaniskan satu cangkir minuman cukup digunakan 30-40 mg GS yang lazimnya digunakan dalam bentuk saset. Keunggulan lain, GS tidak memiliki nilai kalori sehingga tidak akan menyebabkan kenaikan gula darah setelah dikonsumsi.

Oleh karena itu, pemanis alami itu sesuai digunakan oleh penderita diabetes maupun yang memerlukan asupan kalori rendah, seperti yang sedang melakukan diet rendah kalori. Penelitian oleh timnya dimulai sejak 2012, meski dilaksanakan dalam skala laboratorium.

Pada 2015, tim mendapatkan dana penelitian dari Kementerian Kesehatan melalui Program Fasilitasi Pengembangan Bahan Baku Obat (BBO), dan Bahan Baku Obat Tradisional (BBOT).  "Penelitian pun dapat dilakukan pada skala lebih besar dengan menggandeng PT Kimia Farma sebagai industri mitra," katanya.

Dari segi regulasi di Indonesia, GS sudah diizinkan untuk digunakan pada berbagai produk pangan, berdasarkan Perka BPOM sejak 2014. "Sebagai tim peneliti ingin pemanis alami GS dapat diproduksi, sehingga tidak perlu impor, karena tanaman Stevia cocok ditanam di Indonesia khususnya di kawasan Ciwidey," katanya.

Disebutkan, Stevia masuk family asteracaeae (compositae). Tanaman itu berbentuk perdu dengan tinggi 60-90 cm, bercabang banyak, berdaun tebal hijau dan berbentuk lonjong memanjang, batang kecil dan berbulu. (Jr.)**
.

Categories:Infotech,
Tags:,