Liput Demonstrasi, Jurnalis Perancis Diancam Diperkosa

Liput Demonstrasi, Jurnalis Perancis Diancam Diperkosa

Bentrokan antara demonstran dan 'rompi kuning' dan petugas terus berlanjut. (foto - EPA)

Paris - Organisasi pengawas jurnalistik Reporter Without Borders meminta juru bicara yang bertanggung jawab untuk berbicara ke para demonstran "rompi kuning" Perancis, untuk mengutuk berbagai serangan dan ancaman terhadap wartawan selama putaran terakhir demonstrasi anti pemerintah.
 
"Titik balik telah tercapai," sebut Christophe Deloire, sekretaris jenderal pengawas hak media yang berbasis di Paris kepada saluran televisi BFM. "Kami menghadapi situasi sangat serius yang mengancam situasi untuk menjadi lebih buruk,” katanya.
 
Demikian disampaikan setelah adanya laporan wartawan yang dipukuli, ditendang dan diancam dengan pemerkosaan selama demonstrasi rompi kuning, pada Sabtu lalu. "Kami meminta juru bicara rompi kuning untuk benar-benar mengutuk kekerasan yang meningkat terhadap jurnalis selama demonstrasi,” katanya.
 
Dilansir AFP, Senin (14/1/19) Meski Deloire memberikan penghargaan kepada para demonstran yang membantu melindungi jurnalis. Ia juga mengecam mereka yang melakukan "pemerasan anti-demokrasi yang tidak dapat diterima”.
 
Sebagian dari para demonstran juga mengatakan, jika Anda tidak meliput peristiwa persis seperti yang kami lihat, maka kami berhak untuk menyerang Anda. Beberapa demonstran rompi kuning dilaporkan mengepung dan memukuli seorang petugas keamanan yang menemani wartawan televisi LCI, di kota utara Rouen dan berakhir dengan mematahkan hidungnya.
 
Di kota selatan Toulon, dua wartawan video AFP diancam oleh pengunjuk rasa dan terpaksa mencari perlindungan di sebuah restoran. Sementara di Marseille, sejumlah demonstran menghina wartawan dari televisi France 3 dan juga dua fotografer lokal, mencegah mereka menjalankan pekerjaannya.
 
Sementara di sebelah tenggara Perancis, seorang jurnalis ditendang di Kota Pau. Selain itu, seorang reporter wanita dari surat kabar Perancis, La Depeche du Midi diancam dengan pemerkosaan di Toulouse.
 
Pada Jumat malam, para pemrotes juga memblokir pusat percetakan surat kabar L'Yonne Republicaine, dan mencegah surat kabar La Voix du Nord didistribusikan. Menteri Dalam Negeri, Christophe Castaner mengecam serangan itu di Twitter.
 
"Dalam demokrasi kita, pers merupakan hal yang bebas. Di Republik kita, kebebasan untuk memberi informasi tidak dapat dicabut. Serangan terhadap jurnalis termasuk serangan terhadap keduanya,” tulisnya.
 
Kementerian Dalam Negeri melaporkan lebih dari 84.000 orang ikut serta dalam demonstrasi hari Sabtu kesembilan yang menentang Presiden Emmanuel Macron sejak November. Jumlah itu naik sebesar 50.000 dari jumlah demonstran pada Sabtu sebelumnya.
 
Namun demikian, tingkat kekerasan dilaporkan menurun, meski masih ada ratusan penangkapan dan bentrokan dengan polisi di Paris dan sejumlah kota lainnya. (Jr.)**
.

Categories:Internasional,
Tags:,