Kerusuhan di Sudan Meluas hingga Menewaskan 29 Orang

Kerusuhan di Sudan Meluas hingga Menewaskan 29 Orang

Kerusuhan di Sudan meluas menuntut Presiden Umar al-Bashir mundur. (foto - Reuters)

Khartoum - Unjuk rasa ribuan massa di Sudan yang menuntut Presiden Umar al-Bashir mundur kembali meluas dan berujung rusuh. Anggota keluarga korban terakhir Maawiya Bashir mengatakan, dia ditembak di rumahnya saat berusaha melindungi para pengunjuk rasa yang dikejar oleh pasukan keamanan Sudan.
 
"Dengan kematian pria itu, jumlah korban jiwa sejak protes meletus di Sudan pada pertengahan Desember telah mencapai 29 orang," kata juru bicara komite investigasi Sudan, Amer Mohamed Ibrahim.
 
Dilansir Aljazeera, berdasarkan penuturan saksi mata, Bashir baru saja pulang dari beribadah, ketika beberapa pengunjuk rasa berlari melewati pagar rumahnya. Dia disebut setuju untuk melindungi pengunjuk rasa dan menutup rapat pintu rumahnya, kemudian mencegah anggota bersenjata dari pasukan keamanan Sudan masuk.
 
Sejumlah tembakan menghantam melalui gerbang mengenai Bashir. Seham Maawiya Bashir, putri Bashir pun menuntut keadilan bagi ayahnya. "Dia tidak ikut berunjuk rasa atau melakukan apa pun. Dia ada di rumahnya, bagaimana mungkin sebuah peluru menembus pintu dan menabraknya, jika dia bahkan bukan seorang demonstran. Bukti lubang peluru masih ada di pintu," katanya.
 
Sejauh ini, terdapat 10 wilayah di Ibukota Khartoum yang menjadi pusat aksi unjuk rasa. Kerusuhan dalam beberapa hari terakhir ini lebih besar dibandingkan pekan sebelumnya. Tidak hanya terjadi di Khartoum, tapi juga di sejumlah kota utama lainnya, termasuk Port Sudan di tepi Laut Merah.
 
Gelombang protes di Sudan bermula pada pertengahan Desember, ketika warga menentang kenaikan harga, terutama pada bahan bakar minyak. Namun, dalam sebulan terakhir, aksi unjuk rasa telah berubah menjadi tuntutan agar Al Bashir mengundurkan diri dari kursi kepresidenan, yang telah dikuasainya selama 29 tahun.
 
Sejak itu, pihak berwenang di Sudan telah menggunakan gas air mata, peluru karet, amunisi hidup dan pentungan untuk memadamkan kerusuhan. Pihak berwenang telah memberlakukan undang-undang darurat dan jam malam di beberapa kota, serta menangguhkan operasional pendidikan di banyak sekolah dan universitas setempat.
 
Mereka juga menangkap para pemimpin oposisi, dokter, jurnalis, pengacara, dan mahasiswa bersama dengan sekitar 800 orang demonstran. Kelompok hak asasi manusia mengatakan, 40 orang termasuk anak-anak tewas dalam bentrokan itu, sebagian besar mengalami luka tembak. (Jr.)**
.

Categories:Internasional,
Tags:,