Bandung-Melbourne Pererat hubungan lewat kelola Sampah

Bandung-Melbourne Pererat hubungan lewat kelola Sampah

Pemkot Bandung menerima kunjungan Walikota Melbourne Lord Mayor Sally Capp. (foto - Humas)

Bandung - Hubungan  baik   Kota  Bandung  dengan  Kota  Melbourne  Australia   akan  dimanfaatkan  untuk mempelajari tentang pengelolaan sampah. Pemkot Bandung serius dalam penanganan sampah, terlebih sebagai langkah antisipatif menghadapi habisnya masa kontrak TPA Sarimukti dua tahun mendatang.
 
"Tantangan sampah semacam bom waktu bagi kami. Kalau kami tidak cepat, ada persoalan yang lebih besar siap menanti," kata Wakil Walikota Bandung Yana Mulyana di Balaikota Jalan Wastukancana Bandung, Kamis (9/5/2019).
 
Menurutnya, Kota Melbourne cukup sukses menangani sampah, di mana para pelaku industri kuliner mengelola sampah makanannya masing-masing. Program itu berhasil mentransformasi Jalan Degraves yang sebelumnya kotor dan berbau menjadi lebih bersih.
 
Hal itu tercapai dengan pengurangan aliran limbah sebesar 66 persen dan pengurangan sampah makanan sebesar 68 persen. "Ini yang mungkin akan kita tiru. Karena sampah Kota Bandung itu 60 persen adalah sampah organik," katanya.
 
Walikota Melbourne Lord Mayor Sally Capp menjelaskan, pihaknya menampakkan ketertarikannya untuk mempelajari sistem smart city di Kota Bandung. Hal tersebut akan diwujudkan dalam penandatanganan Letter of Intent (LoI) dengan Pemerintah Kota Bandung.
 
"Saya melihat Bandung Command Center. Kita bisa menggunakan teknologi tersebut untuk mengoperasikan kota dan merencanakan masa depan kota," ungkapnya.
 
Sejauh ini, pihaknya juga mendapat banyak informasi tentang Kota Bandung. Salah satunya tentang transformasi menjadi kota yang nyaman, penuh inovasi dan memiliki kualitas hidup yang baik.
 
"Ada banyak kesempatan yang bisa kita lakukan. Kami membahas tentang bagaimana menghadapi berbagai tantangan perkotaan. Karena kita memiliki karakteristik yang sebetulnya hampir sama," tegasnya.
 
Selain soal smart city, kunjungan itu juga membahas tentang perbaikan sarana transportasi massal. Melbourne sendiri memiliki sistem angkutan menggunakan trem dan kereta yang telah berjalan dengan efektif.
 
"Kami juga memiliki program investasi sebesar 2,1 miliar dolar AS untuk membangun lima buah kereta bawah tanah. Kami pun sedang mengintegrasikan sistem transportasi untuk mobilitas warga," tambahnya.
 
Sebelumnya Kota Bandung dan Melbourne bersama menggagas kompetisi teknologi bertajuk Bandung Datathon 2019. Kompetisi itu menjadi ajang unjuk kebolehan warga Bandung untuk berinovasi dalam teknologi. (Jr.)**
.

Categories:Internasional,
Tags:,