KPAI, Siswi Paskibraka Tangsel yang Tewas Pernah Ditampar

KPAI,  Siswi Paskibraka Tangsel yang Tewas Pernah Ditampar

Komisioner KPAI bidang Pendidikan Retno Listyarti. (foto - ant)

Tangsel - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membongkar sejumlah fakta, terkait meninggalnya Aurellia Qurratu Aini (16), siswi calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kota Tangerang Selatan (Tangsel).
 
Aurel meninggal di rumahnya Perumahan Taman Royal 2 Cipondoh Kota Tangerang. Ia terjatuh saat bersiap berangkat menuju lokasi pelatihan di kawasan Cilenggang Serpong Tangsel. Dikabarkan, kelelahan fisik dan tekanan psikologis membuat siswi kelas XI MIPA 3 SMA Islam Al Azhar BSD itu tiba-tiba drop.
 
KPAI telah mendalami fakta yang dianggap berkaitan dengan meninggalnya Aurel. Keterangan keluarga dan catatan buku diary mengarahkan pada dugaan terjadinya praktik kekerasan, dan pola pelatihan yang melampaui batas terhadap semua calon Paksibraka Kota Tangsel.
 
"Terungkap adanya dugaan kekerasan yang dialami korban dan satu timnya selama menjalani pelatihan," kata Retno Listyarti, Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Rabu (7/8/2019).
 
Disebutkan, almarhumah Aurel menjalani pelatihan sejak 9 Juli 2019. Sesuai jadwal, proses itu akan berlangsung selama 1 bulan, yakni hingga acara puncaknya pada upacara HUT 17 Agustus yang digelar di halaman kantor Walikota Tangsel.
 
"Menurut ayahnya, almarhumah berangkat setiap hari pada pukul 05.00 WIB, untuk menjalani pelatihan yang dimulai pukul 06.00 WIB sampai dengan pukul 17.00 WIB, atau sekitar 10 jam sehari," katanya.
 
Beberapa hal yang dianggap janggal, ada kegiatan ketahanan fisik berlari setiap hari. Dengan kewajiban membawa beban di punggung berupa ransel berisi 3 kg pasir, 3 liter air mineral dan 600 mililiter air teh manis.
 
"Hal itu tak lazim karena dalam proses penyiapan fisik olahraga lari keliling lapangan adalah hal biasa. Namun, jika berlari dengan membawa beban di punggung seberat itu tidak lazim dalam suatu pelatihan bagi Paskibra. Kebetulan, kedua orangtua almarhumah juga mantan pasukan Paskibra saat masih SMA," katanya.
 
Retno menyatakan, KPAI sendiri mendesak siapa pun pelaku kekerasan segera ditindak tegas. Upaya itu penting demi menciptakan efek jera bagi pelaku. Ia mengaku, tengah mendorong pemkot untuk melakukan evaluasi total terhadap pola pelatihan Paskibra Kota Tangsel.
 
"KPAI mendorong Pemkot Tangsel untuk melakukan evaluasi total terhadap pelatihan Paskibra Kota Tangsel, terutama para pelatihnya yang diduga melakukan tindakan kekerasan fisik dan kemungkinan juga kekerasan psikis," tegasnya. (Jr.)**
.

Categories:Nasional,
Tags:,