Hutan Mangrove Turut Tercemar Minyak Mentah Pertamina

Hutan Mangrove Turut Tercemar Minyak Mentah Pertamina

Daun mangrove pun menghitam terkena dampak tumpahan minyak mentah Pertamina. (foto - Greenpeace)

Karawang  -  Tumpahan  minyak  mentah  Pertamina  masih  mencemari  bibir  pantai  utara  Kabupaten  Karawang Jabar. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Karawang Wawan Setiawan menyatakan, sedikitnya 232 ribu pohon mangrove di wilayah Kabupaten Karawang telah tercemar tumpahan minyak Pertamina.
 
Tumpahan minyak yang terjadi akibat kebocoran sumur YY-1 Offshore North West Java (ONWJ) milik PT Pertamina Hulu Energi (PHE) tersebut, dinilai semakin mengancam ekosistem mangrove yang ada di wilayah Kabupaten Karawang.
 
Wawan menjelaskan, sejauh ini pihak Pertamina mengklaim perubahan arah angin menjadi penyebab terhadap penyebaran tumpahan minyak semakin meluas di lepas pantai Karawang.
 
"Pengakuan mereka (Pertamina), semburan minyak yang keluar dari sumur hanya segitu-segitu saja. Mungkin karena perubahan arah angin secara umum pada awal September mulai bergeser ke arah Timur," katanya, Minggu (1/9/2019).
 
Wilayah yang paling terdampak menurut Wawan, yakni kawasan Cemarajaya Kecamatan Cibuaya Kabupaten Karawang Jawa Barat. Ekosistem mangrove di wilayah tersebut terkena dampak paling parah akibat tumpahan minyak. "Di wilayah Cemarajaya paling parah terdampak tumpahan minyak," tegasnya.
 
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Alipbata, Sonaji mengatakan tumpahan minyak Pertamina juga mengancam 300 ribu batang mangrove (bakau). Ia mengaku telah meninjau dan mendata langsung ke lokasi terdampak tumpahan minyak, antara lain Pantai Muara Bungin dan Pantai Beting, Desa Pantai Bahagia.
 
 
Warga membersihkan tumpahan minyak di pesisir Cemarajaya Kecamatan Cibuaya Kabupaten Karawang.
 
Batang pohon mangrove katanya, ditemukan dalam kondisi sobek, terkelupas hingga melepuh terkena panas minyak. Sedangkan daun mangrove menjadi layu, menghitam dan mengering.
 
"Karena pada saat malam hari air pun pasang, sehingga daun mangrove seluruhnya terendam air laut, yang telah terkontaminasi tumpahan minyak itu," kata Sonaji.
 
Akibat insiden itu, objek wisata hutan mangrove Muara Gembong yang biasanya selalu ramai dikunjungi wisatawan, berubah menjadi sepi pengunjung. "Kami minta kepada pihak berwenang segera menyelesaikan masalah ini," katanya. Sebagian pohon mangrove atau 59.597 batang, merupakan sumbangan dari perusahaan dan sukarelawan selama empat tahun terakhir.
 
Sementara itu, para nelayan di Muara Gembong Kabupaten Bekasi terkena dampak dari tumpahan minyak mentah tersebut. Mereka berharap, tumpahan minyak Pertamina di laut agar benar-benar bisa teratasi, sehingga nelayan bisa segera beraktivitas kembali.
 
Ali, salah satu dari 2.200 nelayan dan petambak di wilayah Kabupaten Bekasi yang terdata, mengaku terdampak tumpahan minyak Pertamina sejak 21 Juli 2019. Tumpahan itu berasal dari kebocoran di tanjung lepas pantai YYA-1 area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) perairan Kabupaten Karawang.
 
Akibat tumpahan minyak itu, sejumlah ikan dan udang di tambak mati dan hasil tangkapan nelayan menurun drastis. Sebagian nelayan yang tak bisa melaut akhirnya menggantungkan pendapatan dari membantu membersihkan tumpahan minyak dengan upah Rp 100 ribu per hari.
 
Camat Muara Gembong Junaefi mengatakan, total ada 2.200 nelayan dan petambak tersebar di Desa Pantai Bakti dan Desa Pantai Bahagia. Mereka berharap ada kompensasi seperti yang pernah dijanjikan oleh Pertamina. (Jr.)**
.

Categories:Nasional,
Tags:,