Emil Sambut 71 Warga Jabar Korban Kerusuhan di Wamena

Emil Sambut 71 Warga Jabar Korban Kerusuhan di Wamena

Warga Jabar korban kerusuhan Wamena disambut dai dijamu Gubernur makan malam di Gedung Pakuan Bandung. (foto- ist)

Bandung  -  Kepulangan   warga  Jabar  yang   jadi  korban  kerusuhan  Wamena  Papua  tiba  di  Kota  Bandung  langsung disambut Gubernur Jabar Ridwan Kamil di Gedung Pakuan Jalan Cicendo Kota Bandung, Rabu (9/10/2019) malam.

"Para pengungsi yang merupakan warga Jabar itu berhasil dievakuasi dan akan kami serahkan ke Dinas Sosial kabupaten/kota di Jabar. Mereka akan dikembalikan ke wilayah dan pihak keluarganya masing-masing," kata Emil saat menyambut dan menjamu makan malam korban Wamena.

Berdasarkan data Kementerian Sosial sejak 23 September hingga 2 Oktober 2019, sudah 11.646 orang yang meninggalkan Wamena. Pada Rabu 9 Oktober 2019, giliran 71 perantau Jabar dipulangkan dari Wamena.

Berdasarkan catatan dari Sekretaris Dinas Sosial Jabar, ke-71 orang itu dipulangkan secara bergantian pada tiga penerbangan. Mereka berasal dari sejumlah kabupaten dan kota di Jabar, Rinciannya Kabupaten Garut sebanyak 18 orang, Majalengka 2 orang, Sukabumi 6, Kota Bandung 4, Kab. Bandung 5, Kab. Kuningan 2, Kab. Tasikmalaya 6, Kab. Sumedang 8, Kab. Subang 8, Kab. Purwakarta 3, Kota Bogor 4 dan Kab Indramayu 3 orang.

Dari jumlah tersebut, 14 orang di antaranya perempuan. Selain melibatkan Dinsos, pemulangan para perantau itu juga dibantu oleh tim dari Jabar Quick Response, Baznas Jabar, Forum Paguyuban Sunda Ngumbara dan DT Peduli.

Menurut Ketua Paguyuban Sunda Ngumbara Irianto, sebagian warga Jabar memutuskan untuk tetap bertahan di Wamena Papua. "Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu proses kepulangan warga Jabar.

"Saya lihat semua tidak ada masalah, karena keselamatan nyawa lebih penting dari apa pun, dan ini merupakan kewajiban kemanusian kita bersama. Saya mendoakan mudah-mudahan kondisi di Papua berangsur kembali normal, sehingga hal seperti ini tak terulang," katanya.

Ia mengaku sangat prihatin dan sedih atas kondisi yang terjadi Papua saat ini. Terlebih, ia memiliki ikatan emosional yang sangat kuat dengan warga dan wilayah Wamena. Pada 2014, ia diangkat sebagai anak adat oleh seorang kepala suku di Wamena.

Mengenai pengungsi yang harus kehilangan harta benda dan pekerjaan akibat kerusuhan itu, pihaknya akan mencari solusi bersama pemerintah daerahnya masing-masing. Bukan hanya harta benda dan pekerjaan, tapi juga ada di antaranya yang terluka akibat kekerasan yang terjadi.

Ridwan Kamil pun mengamini pernyataan Irianto. "Dalam minggu ini kami akan coba melakukan trauma healing. Setelah itu baru dikoordinasikan oleh Dinsos daerah. Apalagi rata-rata orang Sunda datang ke Papua bekerja sebagai pedagang, sehingga sebagai tanda mereka kuat dalam berikhtiar dan berusaha, tidak akan kami biarkan," kata Emil.

Ia berpesan, bagi warga yang memilih bertahan di Wamena agar senantiasa dapat mencintai Papua meski tetap waspada. Diharapkan, warga Jabar yang bertahan di Papua menyimpan dua kontak penting, yakni petugas keamanan setempat dan Gubernur Jabar baik nomor ajudan gubernur maupun Pemprov Jabar.

"Jadi kalau ada apa-apa bisa menghubungi kedua nomor kontak itu, agar dapat dilakukan upaya penanggulangan sesegera mungkin. Apalagi komunikasi kita di sana cukup dimudahkan karena ada Ketua Paguyuban Sunda Ngumbara, kang Irianto yang juga merupakan Sekretaris Dinsos di sana untuk segera melakukan upaya penyelamatan," katanya. (Jr.)**

 

.

Categories:Bandung,
Tags:,