Jangan Pakai Lagi "Akkharapongpricha"

Jangan Pakai Lagi

Yang Mulia Putra Mahkota Maha Vajiralongkorn, Yang Mulia Putri Srirasmi,Yang Mulia Putri Bajarakitiyabha, dan Yang Mulia Pangeran Dipangkorn Rasmijoti menghadiri upacara Buddha di Bodhgaya, India.(Foto:Net)

Bangkok - Gelar kehormatan untuk keluarga istri putra mahkota Thailand dicopot setelah tiga anggota keluarga itu tertangkap dalam skandal korupsi tingkat tinggi, kata polisi, Senin (1/12/2014).

Putra mahkota Vajiralongkorn meminta junta negara tersebut melarang siapapun menggunakan nama "Akkharapongpricha" dalam sebuah surat yang tersebar luas dalam media sosial.

Tiga orang dengan nama tersebut --nama kehormatan yang diberikan kepada keluarga Putri Srirasmi setelah pernikahannya dengan Putra Mahkota-- ditahan pekan lalu dengan tuduhan korupsi, sebagai bagian dalam penyelidikan dugaan korupsi berjamaah perwira polisi senior.

"Ini merupakan nama belakang kerajaan yang diberikan kepada sepupu dan saudara kandung (putri)," kata jurubicara polisi nasional Letjen Prawut Thavornsiri kepada AFP dan menambahkan bahwa 19 orang sudah ditahan dalam penyelidikan tersebut.

"Ada sebuah dokumen yang tersebar di media sosial. Kami mengecek dan adalah benar bahwa mereka sudah dicopot dari nama belakang kerajaan itu." Harian The Bangkok Post dan media lain melaporkan bahwa ketiga lelaki itu bekerja di dalam istana.

Putri Srirasmi menikah dengan Putra Mahkota pada 2001 dan terakhir muncul di depan publik pekan lalu saat mendampingi suaminya dalam sebuah acara kerajaan.

Pasangan itu memiliki seorang anak laki-laki yang diperkirakan akan menjadi satu-satunya keturunan Vajiralongkorn.

Rumor yang beredar di tengah masyarakat Thailand selama berhari-hari adalah bahwa beberapa diantara mereka yang ditahan dalam skandal korupsi itu terkait dengan istri kedua Putra Mahkota tersebut.

Namun surat dari Putra Mahkota Vajiralongkorn itu merupakan penjelasan secara eksplisit yang pertama kalinya ke publik yang mengaitkannya dengan istana.

Monarki Thailand dilindungi oleh hukum penghinaan terhadap kerajaan (lese majeste) yang ketat. Baik media lokal maupun internasional harus menerapkan sensor diri yang ketat saat meliput keluarga kerajaan.

Berdasar pasal 112 hukum pidana Thailand, siapapun yang terbukti memfitnah, menghina atau mengancam raja, ratu, keturunan atau kerabatnya terancam hukuman antara tiga hingga 15 tahun penjara untuk setiap dakwaan.

Bahkan mengulang-ulang isi dakwaan secara rinci juga bisa diartikan melanggar hukum.

Skandal korupsi polisi terungkap pekan lalu saat tiga perwira senior --termasuk kepala Biro Investigasi Pusat-- ditahan dengan dakwaan suap.

Tidak seperti biasanya, beberapa tersangka yang ditahan juga didakwa memfitnah keluarga kerajaan, dan polisi mengatakan mereka telah membuat "klaim palsu" mengenai kerajaan untuk pembenaran aksi kejahatan mereka, yang diduga berkisar dari kasino ilegal hingga penyelundupan minyak, penculikan dan pungutan liar. (AY)

.

Categories:Internasional,