Unpad Mulai Produksi alat Rapid Test disebut 'Deteksi Cepad'

Unpad Mulai Produksi alat Rapid Test disebut 'Deteksi Cepad'

Gubernur Jabar Ridwan Kamil klaim deteksi penyakit menggunakan Deteksi Cepad bisa lebih cepat. (foto - Instagram)

Bandung  -  Universitas  Padjadjaran  (Unpad)  Bandung  berkontribusi  dalam  upaya pencegahan  pandemi virus  Corona (Covid-19) di Jawa Barat. Untuk itu, Unpad pun memulai untuk memproduksi alat rapid test 2.0, yang diklaim lebih cepat dalam mendeteksi penyakit.

Alat medis yang diproduksi para ilmuwan dari Fakultas Pusat Riset Bioteknologi Molekuler dan BionIformartika (PRBMB) Unpad tersebut, diberi nama "Deteksi Cepad".

Kepala PRBMB Unpad Muhammad Yusuf mengatakan, alat rapid test terbaru itu bisa lebih cepat karena mendeteksi langsung antigen, dari orang yang menunjukkan gejala terinfeksi suatu penyakit. Alat rapid test mutakhir itu mengungguli rapid test konvensional yang mendeteksi antibodi.

“Antigen terbentuk paling lama selama dua hari ke depan, setelah seseorang terinfeksi penyakit. Sementara antibodi baru terbentuk belasan hari ke depan," kata Yusuf, Rabu (24/6/2020).

Dengan mendeteksi langsung antigen, maka alat rapid test yang diproduksi Unpad tersebut bisa lebih cepat dalam mendiagnosa penyakit pada tubuh seseorang. "Jadi ketika ada orang menunjukkan gejala sakit, langsung bisa terdeteksi dengan Deteksi Cepad," tegas Yusuf.

Dalam unggahan lewat Instagram pribadinya, Gubernur Jabar Ridwan Kamil pun mengklaim, deteksi penyakit dengan menggunakan Deteksi Cepad bisa dilakukan hanya dalam waktu antara 10 sampai 15 menit.

Menurut Emil, pekan ini Unpad mulai memproduksi rapid test Deteksi Cepad sebanyak 5.000 kit untuk validasi. Kemudian, pada Juli nanti akan diproduksi lagi 10.000 kit dan selanjutnya setiap bulan akan diproduksi 50.000 kit. "Jauh lebih akurat dan lebih murah dibanding rapid test impor yang ada. Keakuratan hingga 80 persen, sudah hampir setara dengan tes PCR," katanya.

Emil lalu menuliskan penjelasan kenapa pemeriksaan antigen lebih akurat dari antibodi. Rapid test antigen (meski bukan deteksi RNA) memeriksa bagian protein dari virus Corona secara langsung. Sedangkan rapid test antibodi yang diperiksa adalah adanya respons tubuh terhadap virus, perlu waktu dan perlu jumlah yang cukup untuk terdeteksi.

Ibarat deteksi maling, antigen adalah deteksi menangkap tangan maling, sementara antibodi adalah deteksi pergerakan satpam mencari maling saat alarm bunyi. "Apakah di dunia sudah ada yang antigen juga? Ada, tapi jarang digunakan di negara maju yang memiliki ketersediaan PCR cukup," tegas Emil.

Di Indonesia ketersediaan PCR memang masih terkendala karena di negara berkembang umumnya harus impor. "Beruntung di Jabar, ada kampus Unpad dan produsen yang bisa membuat deteksi antigen dengan bahan baku lokal," tambahnya. (Jr.)**

.

Categories:Bandung,
Tags:,