9 Kandidat Vaksin Covid-19 Masuk Tahap Final dari Total 240

9 Kandidat Vaksin Covid-19 Masuk Tahap Final dari Total 240

Sembilan kandidat vaksin Covid-19 memasuki tahap final. (foto - CNN)

Bandung  -  Pengembangan   vaksin  merupakan   salah  satu   upaya  menghentikan  penularan  virus  Corona   jenis  baru SARS-CoV-2, penyebab pandemi Covid-19. Vaksin menjadi salah satu elemen penting untuk menghentikan atau menekan penularan, selain penanganan pandemi lewat tes, pelacakan dan isolasi.

Vaksin menjadi penting karena virus Corona menular dengan mudah antar-manusia. Saat ini mayoritas populasi di seluruh dunia belum memiliki kekebalan terhadap virus itu. Dengan adanya vaksin, sistem kekebalan manusia bisa diperkuat, sehingga saat tertular virus mereka tidak akan terjangkit.

Dilansir BBC dan National Geographics, Selasa (22/9/2020) riset pengembangan vaksin Covid-19 dilakukan dengan kecepatan luar biasa. Sekitar 240 kandidat vaksin memasuki tahap awal pengembangan, sebanyak 40 kandidat di antaranya sudah memasuki tahap uji klinis. Sementara 9 kandidat sudah memasuki tahap final untuk diuji pada relawan manusia.

Uji coba vaksin yang dikembangkan oleh Oxford University Inggris misalnya, menunjukkan vaksin buatan mereka dapat memicu respons imun. Kampus itu juga telah menandatangani kesepakatan dengan AstraZeneca, untuk memasok 100 juta dosis di Inggris.

Hasil uji coba kandidat vaksin Moderna pada bulan Mei lalu menunjukkan, delapan pasien pertama yang ambil bagian dalam penelitian di Amerika Serikat, semuanya menghasilkan antibodi yang dapat menetralkan virus Corona.

Sedngkan CanSino Biologics di Cina melaporkan, hasil uji coba mereka yang memperlihatkan vaksin itu aman dan menghasilkan antibodi penangkal Covid-19. Vaksin itu telah disetujui oleh Pemerintah Cina untuk digunakan pada militer. Pendekatan lain yang sama sekali baru untuk pengembangan vaksin, sedang dalam uji coba pada manusia. Pendekatan itu dilakukan oleh Imperial College London.

9 kandidat vaksin yang telah masuk tahap final untuk diuji pada relawan manusia :

1. Moderna Therapeutics. Pada 27 Juli 2020 Moderna mengumumkan, mereka telah memulai uji klinis tahap ketiga, meski terus memantau hasil tahap kedua. Temuan awal dari fase pertama telah menunjukkan, subjek yang sehat, termasuk pasien lanjut usia menghasilkan antibodi virus Corona dan reaksi dari sel-T.

Sedangkan pada fase ketiga akan dilakukan uji vaksin kepada sekitar 30.000 relawan di Amerika Serikat. Moderna menyatakan, pihaknya berada dalam jalur yang tepat untuk memproduksi, setidaknya 500 juta dosis per tahun mulai 2021 nanti.

2. Pfizer. Pada 27 Juli 2020 Pfizer dan BioNTech meluncurkan uji coba yang menggabungkan fase dua dan tiga pada populasi yang beragam di daerah dengan transmisi SARS-CoV-2 yang signifikan. Uji coba itu akan memeriksa efek vaksin pada 30.000 orang dari 39 negara bagian AS dan dari Brasil, Argentina dan Jerman.

Proyek itu diharapkan mendapat izin dari otoritas kesehatan, paling cepat Oktober 2020 untuk memenuhi tenggat waktu Desember. Mereka berharap bisa memasok 1,3 miliar dosis pada akhir 2021. Hasil awal dari fase satu dan dua menunjukkan, vaksin menghasilkan antibodi dan respons sel-T khusus untuk protein SARS-CoV-2.

3. Universitas Oxford dan AstraZenecca. Hasil awal dari dua fase uji klinis mengungkapkan, calon vaksin telah memicu respons imun yang kuat termasuk peningkatan antibodi dan respons dari sel-T, dengan hanya efek samping ringan seperti kelelahan dan sakit kepala.

Calon vaksin tersebut sedang dalam uji klinis fase tiga, yang bertujuan untuk merekrut hingga 50.000 sukarelawan di Brasil, Inggris Raya, Amerika Serikat dan Afrika Selatan. Pada 8 September, AstraZeneca sempat menghentikan uji coba untuk tinjauan keamanan, karena reaksi berlebih pada salah satu peserta di Inggris Raya.

4. Sinovac. Pada 3 Juli otoritas Brasil memberikan persetujuan calon vaksin itui untuk melanjutkan ke fase tiga, setelah memantau hasil uji klinis fase kedua. Hasil awal pada monyet yang diterbitkan jurnal Science mengungkap, vaksin itu menghasilkan antibodi yang menetralkan 10 galur SARS-CoV-2.

Perusahaan asal Cina itu juga telah merilis hasil pracetak dari uji coba fase kedua pada manusia, yang juga menunjukkan vaksin tersebut menghasilkan antibodi tanpa reaksi merugikan yang parah. Tahap ketiga akan merekrut hampir 9.000 profesional perawatan kesehatan di Brasil. Sinovac juga melakukan uji coba fase tiga di Indonesia dan Bangladesh.

5. Sinopharm. Pada 22 Agustus 2020 Cina menyatakan, mereka mulai menyuntik pekerja medis dan kelompok berisiko tinggi lainnya dengan vaksin percobaan Sinopharm sejak Juli, menjadikannya vaksin eksperimental pertama yang tersedia untuk warga sipil di luar sukarelawan klinis.

Pada Juli, Sinopharm juga meluncurkan uji coba fase tiga pertamanya yang melibatkan 15.000 sukarelawan, berusia antara 18 hingga 60 tahun tanpa kondisi dasar yang serius di Uni Emirat Arab. Perusahaan itu memilih UEA karena memiliki populasi beragam yang terdiri atas sekitar 200 kebangsaan, menjadikannya tempat pengujian yang ideal. Sinopharm juga akan melakukan uji coba fase tiga di lokasi seperti Peru dan Bahrain.

6. Murdoc's Children Research Institute. Pada April para peneliti dari Murdoch Children’s Research Institute memulai serangkaian uji coba terkontrol secara acak, yang juga akan menguji apakah BCG dapat bekerja pada virus Corona juga. Mereka bertujuan merekrut 10.000 petugas kesehatan dalam penelitian itu.

7. CanSino Biologics. Meski perusahaan itu secara teknis masih dalam tahap kedua uji coba pada 25 Juni, CanSino menjadi perusahaan pertama yang menerima persetujuan terbatas untuk menggunakan vaksinnya pada manusia. Pemerintah Cina telah menyetujui vaksin untuk penggunaan militer dalam jangka waktu satu tahun.

8. Sputnik V. Meski kurangnya bukti yang dipublikasikan Rusia telah menyetujui vaksin Sputnik V untuk digunakan secara luas, dan mengklaimnya sebagai vaksin Covid-19 yang pertama di pasar. Rusia melaporkan, mereka akan memulai uji klinis fase tiga pada 12 Agustus. Meski demikian, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), masih mengklasifikasikan Sputnik V dalam tahap pertama dari uji klinis.

9. Imperial College London. Pada 24 Juli 2020 sekitar 300 orang mengikuti tahap uji coba vaksin di Imperial College London. Tim uji coba dikepalai oleh Prof Robin Shattock, yang dibantu oleh rekan-rekannya. Sebelumnya, uji coba pada hewan menunjukkan, vaksin itu aman dan memicu respons imun yang efektif.

Setelah uji coba pada Juli, uji coba berikutnya direncanakan pada Oktober dan akan melibatkan 6.000 orang. Tim Imperial berharap, vaksin tersebut dapat didistribusikan di Inggris dan luar negeri mulai awal 2021.

Keunikan dari uji coba vaksin Imperial, hanya satu relawan yang akan diimunisasi pada hari pertama, diikuti oleh tiga relawan lagi setiap 48 jam. Setelah satu minggu atau lebih, angka akan meningkat secara perlahan. Berbeda dengan vaksin Oxford yang menggunakan satu dosis, relawan pada uji coba Imperial akan mendapatkan dua suntikan, dengan jarak empat minggu.

Mengingat hanya sejumlah kecil kode genetik yang digunakan dalam vaksin Imperial, namun akan berpengaruh. Tim Imperial mengatakan, satu liter bahan sintetis cukup untuk menghasilkan dua juta dosis. Prof. Shattock dan timnya mengatakan, tidak ada masalah keamanan khusus dengan metode mereka. Ini hanya pendekatan baru yang membuat mereka melanjutkan setiap tahap dengan hati-hati. (Jr.)**

.

Categories:Infotech,
Tags:,

terkait

    Tidak ada artikel terkait