Lima Daerah di Jabar Masuk Zona Risiko Penularan Covid-19

Lima Daerah di Jabar Masuk Zona Risiko Penularan Covid-19

Gubernur Jabar Ridwan Kamil. (foto - humas)

Bandung  -  Pemerintah  Provinsi   (Pemprov)  Jabar  kembali   melakukan  update  zona  penularan   virus  Corona  (Covid-19). Sedikitnya lima daerah di wilayah Jabar dinyatakan masuk dalam daftar zona merah Corona.

Gubernur Jabar Ridwan Kamil menyatakan, lima daerah yang masuk dalam daftar risiko tinggi penularan virus Corona tersebut yakni Kota Bogor, Kabupaten Bekasi, Kota Depok, Kota Cirebon serta Kabupaten Cirebon.

Perubahan status zona penularan virus Corona tersebut mengacu pada evaluasi Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jabar, pada 21 - 27 September 2020. "Pekan ini terjadi perubahan status terhadap 5 daerah," katanya di Gedung Sate Bandung, Senin (28/9/2020).

Emil menjelaskan, ada dua daerah di Jabar yang turun ke kategori risiko sedang penularan virus Corona, yakni Kabupaten Karawang dan Kota Bekasi. Meski ada lima daerah zona merah, tingkat penularan virus Corona di wilayah Jabar masih terkendali.

"Dari sisi angka reproduksi, kita masih berada di kisaran angka 1,04. Hal itu menandakan tingkat kecepatan penularan (virus Corona) masih relatif terkendali," tegas Emil.

Namun demikian, penularan virus Corona di Jabar mulai merambah ke zona pesantren. Kali ini, klaster penularan Covid-19 pesantren terjadi di Kabupaten Kuningan. Diketahui, sebanyak 46 santri Pesantren Husnul Khotimah di Kuningan dinyatakan positif Covid-19 dan tengah menjalani isolasi mandiri.

Imbas dari kasus itu gugus tugas Jabar memberlakukan pengetesan PCR secara massal di Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majalengka serta Kabupaten Kuningan (Ciayumajakuning).

"Di Jabar ada klaster pesantren di Kuningan yang pekan ini kita lakukan pengetesan massal sesuai pola di wilayah Ciayumajakuning, karena di beberapa wilayah itu terjadi peningkatan kasus," katanya.

Ia mengatakan, penularan terjadi diduga karena mobilitas orang di kawasan tersebut masih bergerak. "Yang kami temukan karena masih ada keluar masuk, kalau yang sifatnya bermukim itu relatif lebih terkendali," katanya.

Bahkan, pergerakan pelajar atau santri yang memiliki kontak dengan orang luar diduga menjadi penyebab. "Ada kasus tercampur dengan sekolah umum dan orangnya tidak bermukim di wilayah pesantren. Sudah kami tugaskan fokus PCR ke zona pesantren," katanya.

Untuk mempercepat memutus mata rantai penularan, Gugus Tugas Covid-19 memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Mikro (PSBM). "Di Kuningan sudah diberlakukan PSBM, yaitu pembatasan desa dan kecamatan," tambahnya. (Jr.)**

.

Categories:Nasional,
Tags:,