Kacab Maybank Gasak Duit Winda Earl Dijerat Pasal Berlapis

Kacab Maybank Gasak Duit Winda Earl Dijerat Pasal Berlapis

Kacab Maybank Cipulir tilap uang Winda Lunardi dijerat dengan pasal berlapis. (foto - ist)

Jakarta  -  Polisi  sudah  menetapkan  Kepala  Cabang  (Kacab)  Maybank  Cipulir  berinisial  A  sebagai  tersangka,   terkait dugaan penggelapan uang senilai Rp 22 miliar milik Winda Lunardi dan ibunya Floleta.

Tersangka A dijerat dengan pasal berlapis atas kejahatannya menguras tabungan atlet eSport yang dikenal dengan nama Winda Earl tersebut. A dijerat pasal berlapis Undang-Undang (UU), tentang Perbankan dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

"Pasal yang dilanggar Pasal 49 ayat 1 dan ayat 2 UU 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas UU No 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dan Pasal 3, Pasal 4, dan Pasal 5 UU No 8 Tahun 210 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono di Mabes Polri Jakarta Selatan, Jumat (6/11/2020).

Menurut Awi, A terancam hukuman kurungan paling lama 20 tahun, sedangkan untuk denda paling banyak Rp 100 miliar. "Ancaman hukumannya pidana penjara 8 tahun atau denda sekurang-kurangnya Rp 5 miliar dan paling banyak Rp 100 miliar. Lalu Pasal 3, 4, dan 5 UU TPPU ancamannya pidana penjara paling lama 20 tahun dan denda paling banyak Rp 10 miliar," katanya.

Awi mengungkapkan, pada awalnya tersangka A memanfaatkan jabatannya untuk menawarkan pembuatan rekening berjangka kepada korban. Namun rekening yang ditawarkan kepada korban tersebut dipalsukan.

"Tersangka A sebagai business manager di KCP tersebut. Bahkan, yang bersangkutan sendiri yang menawarkan terhadap korban, untuk membuka rekening berjangka. Sementara rekening tersebut di Bank MI (Maybank Indonesia) sendiri tidak ada," tegas Awi.

Dalam skema tabungan berjangka katanya, tersangka mengiming-imingi korban dengan keuntungan bunga 10 persen. Tawaran tersebut membuat korban tertarik hingga akhirnya membuat rekening tabungan berjangka.
"Iming-imingnya dapat keuntungan sampai 10 persen. Secara berjangka ya tinggi sekali kan, makanya korban tertarik untuk menyimpan uangnya," katanya.

Ia mengatakan, A kemudian mengambil uang tabungan milik korban tanpa seizin dan sepengetahuan korban. Uang tersebut kemudian dikirimkan ke rekening teman-teman A untuk diputar kembali dengan tujuan mencari keuntungan.

Tanpa seizin pemiliknya, yang bersangkutan mengambil uang tersebut dan mengurasnya sampai habis kemudian diberikan ke beberapa rekannya untuk diputar guna mencari keuntungan. A juga memalsukan data-data milik korban.

Hingga akhirnya uang dalam tabungan korban dikuras habis untuk diinvestasikan dengan teman-teman tersangka. "Jadi memalsukan data-datanya, sehingga dari situ uangnya ditarik untuk diinvestasikan dengan teman-temanya," tegas Awi.

Sementara rekan-rekan A yang menampung uang hasil kejahatan itu pun dijerat tindak pidana perbankan. Namun, Awi tak menyebutkan identitas rekan A yang juga diproses hukum. Beberapa teman A pun sudah dilakukan penahanan di Polda Metro Jaya.

Perkara itu awalnya dilaporkan oleh ayah Winda Earl, Herman Lunardi dengan rekening atas nama Winda selaku anak dan Floleta selaku istrinya pada 8 Mei 2020. Laporan itu bernomor: LP/B/0239/V/2020/Bareskrim, dengan total tabungan yang raib sekitar Rp 22 miliar.

Korban Winda mengaku baru mengetahui peristiwa hilangnya saldo tabungannya pada Februari 2020. Winda mengatakan, uang yang ditabung di rekening Maybank-nya adalah uangnya dan milik sang ibunda.

"Justru itu yang aku pertanyakan sama keluarga, kenapa saya sebagai nasabah, tujuan saya baik, ingin menabung untuk tabungan masa depan saya. Tapi, ketika dicek, ternyata hilang. Tabungan saya dan ibu Rp 20.879.000.000, hilangnya itu kita baru tahu Februari," kata Winda.

Sementara itu kuasa hukum Winda, Joey menjelaskan uang tabungan itu berasal dari pemberian ayah Winda. Dari total Rp 20 miliar lebih tabungan yang raib, senilai Rp 15 miliar lebih milik Winda, sedangkan sisanya milik ibu Winda.

"Tahun 2015 itu Winda dan ibunya setor uang di Maybank, dia terima duit dari bapaknya. Untuk Winda totalnya sekitar Rp 15.879.000.000, kemudian ibunya berjumlah Rp 5 miliar," kata Joey. Pada Februari ibunya hendak menarik, ternyata ditolak dan diketahui nilai rekeningnya berkurang jadi Rp 17 juta.

Sedangkan Winda, yang seharusnya senilai Rp 15.879.000.000 per Oktober lalu, kita lihat juga sisanya hanya Rp 400 ribu. Jadi Winda dan ibunya mengalami kerugian totalnya mencapai Rp 20.879.000.000," katanya. (Jr.)**

.

Tags:,