Pasar Baru Bandung Terpuruk Kios yang Buka tinggal Separo

Pasar Baru Bandung Terpuruk Kios yang Buka tinggal Separo

Pembeli sepi, kondisi pasar Baru Bandung kian terpuruk. (foto - hp2bpasbar)

Bandung  -  Sepinya  pembeli  menyebabkan  kondisi  Pasar  Baru  Bandung  terpuruk  di  masa  pandemi  Corona   (Covid-19). Dari total 5.200 kios yang ada di pasar Baru sebagian besar tutup, hanya tinggal 40 persen yang buka.

"Kios yang buka tinggal 40 persen itu pun sepi pembeli. Semua itu bukan hanya karena pandemi Corona tapi memang tidak ada promosi dari pengelola," kata Ketua Himpunan Pedagang Pasar Baru (HP2B) Trade Center Iwan Suhermawan, Senin (9/11/2020).

Kalangan pedagang menuduh menurut Iwan, bangkrutnya para pedagang selain Covid-19 juga pengelola yang saat ini dipegang PD Pasar dinilai kurang profesional. Sejak dibuka kembali pada Juni lalu, hingga saat ini tidak ada kepastian dari pengelola terkait promosi dan layanan.

Iwan mengatakan, Pasar Baru sempat tutup pada Maret sampai Mei karena Covid-19. Namun demikian, setelah dibuka kembali pada Juni tidak ada perubahan yang berarti pembeli pun sepi.

"Jumlah kios seluruhnya ada sebanyak 5.200 unit, dengan jumlah pegawai sekitar 10.000 orang. Namun saat ini 60 persen pegawai di-PHK. Padahal, Pasar Baru menjadi salah satu penyumbang pengangguran terbesar," tegas Iwan.

Pedagang berharap, pengelolaan Pasar Baru diserahkan kepada pihak ketiga agar tidak telantar seperti sekarang ini. Pemkot diharap membantu kelangsungan pedagang Pasar Baru dengan cara memberikan subsidi servis charger, dan pembayaran pembayaran listrik.

Menurut Iwan, pembayaran servis charge bervariasi tergantung luas kios, mulai dari Rp 50 ribu per meter persegi. Sedangkan pembayaran listrik bergantung pada pemakaian. Hanya saja, rata-rata pembayaran listrik sekitar Rp 700 ribu per bulan per pedagang.

Penurunan omzet para pedagang juga karena tahun ini juga terpengaruh tidak ada keberangkatan ibadah haji, dan penundaan keberangkatan ibadah umrah. "Biasanya kalau jamaah pulang haji dan umrah, banyak yang belanja oleh-oleh di sini," katanya.

Belum lagi dengan adanya sistem pembelajaran daring menyebabkan tidak ada orangtua siswa yang membeli peralatan sekolah. Sehingga pemasukan para pedagang semakin berkurang.

Sekjen HP2B Yenda mengatakan, kondisi itu diperburuk dengan sistem parkir yang sangat buruk, sehingga membuat pengunjung malas datang ke Pasar baru. "Mungkin, sistem parkir di Pasar Baru ini merupakan yang terburuk di Indonesia," katanya.

Menurutnya , sistem parkir merupakan salah satu alasan sepinya pengunjung untuk datang ke Pasar Baru. "Parkir buruk menunjukkan ketidak-mampuan pengelola. Pemkot diharap segera evaluasi kinerja PD Pasar. Kalau dibiarkan begini akan hancur dan pemulihannya akan lebih sulit," katanya.

Sementara itu sejumlah pedagang mengaku, selama pandemi hampir tidak ada pembeli. Kondisi ini berbeda sekali dengan ramai-ramainya pasar, di mana pedagang mendapat omzet mencapai Rp 100 juta, dengan berdatangannya pembeli dari Malaysia, Singapura dan Brunei. (Jr.)**

.

Categories:Bandung,
Tags:,