Penggerebekan, PSK pun dipaksa Layani oknum Polisi di Bali

Penggerebekan, PSK pun dipaksa Layani oknum Polisi di Bali

Korban dan kuasa hukum saat mendatangi Mapolda Bali. (foto - ist)

Denpasar  -  Seorang  perempuan  berinisial  MIS (21)  bersama  kuasa  hukumnya  menyambangi  Polda  Bali  melaporkan polisi berinisial RC, atas tindak penipuan dan pencurian. Polisi tersebut, diduga memaksa untuk melakukan hubungan badan dengan korban.

"Laporan terkait kode etik karena ini dilakukan oleh polisi yang masih aktif. Langkah awalnya kita dipanggil Propam untuk ditanyakan peristiwa disinkronkan dengan laporan yang viral ini," kata selaku kuasa hukum korban MIS, Charli Uspunan di Mapolda Bali, Jumat (18/12/2020).

"Setelah ke propam, kami lanjut ke Diskrimum dan SPKT untuk. Dari propram sudah menyampaikan itu benar anggota aktif dan sudah diperiksa. Saya dengar info di dalam saat ini masih diperiksa," katanya.

Peristiwa itu berawal saat korban menjajakan dirinya melalui aplikasi MiChat karena terdesak masalah ekonomi, pada Selasa 15 Desember lalu sekitar pukul 23.30 Wita. Tak beberapa lama ada pelanggan yang membooking korban. Setelah negosiasi pelanggan itu datang ke tempat kos korban di wilayah Denpasar Bali.

Ketika korban akan melayani pelanggan tiba-tiba pintu tempat kos korban ada yang mengetuk, saat dibuka adalah polisi yang melakukan penggerebekan. "Ia menunjukkan tanda pengenal anggota kepolisian. Korban pun panik dan korban akan dibawa ke kepolisian karena melakukan hubungan prostitusi," katanya.

Karena digerebek, pelanggan pun akhirnya keluar. Polisi lalu menutup pintu dan meminta korban melakukan seks oral dan berhubungan badan."Korban dipaksa melayani oknum polisi itu untuk hubungan badan," katanya.

Bahkan katanya, oknum polisi tersebut setelah menutup pintu langsung membuka dan menurunkan celana panjangnya, lalu menyuruh korban melakukan oral seks sampai berhubungan badan," tegas Charli.

Setelah puas melakukan hubungan badan, barang dan uang korban Rp 350 ribu pun mau diambil oleh polisi itu. Korban mau mengikuti keinginan pelaku karena panik dan takut, terkait ancaman polisi itu akan membawa ke kantor polisi.

"Kita merujuk Pasal ayat 368 pemerasan dan di sini juga ada penipuan Pasal 378 dan juga ada pencurian Pasal 363. Namun kita juga harus koordinasi dulu, unsur mana yang masuk dalam kasus itu," kata Charli.

Sementara itu Direskrimum Polda Bali Kombes Dodi Darmawan menjelaskan, pihaknya saat ini masih melakukan penyidikan atas kasus tersebut. Ia belum membenarkan terduga pelaku adalah anggota kepolisan di Polda Bali. "Korban didampingi penyidik PPA dan penyidik Bidpropam Bali, untuk menerima pengaduan dan melakukan proses sidik lebih lanjutnya," katanya. (Jr.)**

 

.

Tags:,