Suasana Kota Yangon Mencekam Seusai Kudeta di Myanmar

Suasana Kota Yangon Mencekam Seusai Kudeta di Myanmar

Antrean panjang warga hendak menarik uang mereka di ATM sebelum seluruh bank di Kota Yangon ditutup. (foto - EPA)

Yangon  -  Dunia  dikejutkan dengan  kudeta  militer  di  Myanmar  menjadikan  suasana  kota  tampak  sepi.  Seluruh bank di Myanmar pun tutup, pasca-kudeta yang dilakukan militer terhadap pemimpin de facto Aung San Suu Kyi dan Presiden Win Myint.

Dilansir Aljazeera, Senin (1/2/2021) semua bank anggota Asosiasi Bank Myanmar menutup kantor mereka mulai 1 Februari. Asosiasi menyebut, hal itu dikarenakan akses internet yang buruk, bahkan sempat terjadi gangguan telepon.

Kekacauan sempat terjadi sekitar pukul 10 waktu setempat. Pasca penahanan Aung San Suu Kyi, militer langsung mengumumkan status darurat nasional, menunjuk presiden baru dan pengembalian negara ke militer.

Karena suasana yang begitu mencekam, warga Yangon pun langsung bergegas untuk menarik semua uang dalam bentuk tunai dari bank mereka. Tampak, hampir di semua ATM terjadi antrean warga yang panjang.

Tak hanya menarik uang tunai, warga pun langsung berdesakan ke toko-toko sembako, guna menyiapkan berbagai kebutuhan. Masih di tengah pandemi, kebanyakan warga terlihat memakai masker, meski ada juga di antaranya yang tidak memakainya.

Kudeta artinya semua pemerintahan dikembalikan ke militer. Tank-tank militer terlihat melintas dan masuk ke ibu kota. Thailand yang memiliki perbatasan darat dengan Myanmar langsung mengambil langkah cepat.

Lewat Ketua Kamar Dagang Chiangrai (daerah perbatasan Myanmar) Anurat Intorn mengatakan, semua daerah perbatasan dan aktivitas perdagangan untuk sementara distop tanpa batas waktu yang ditentukan.

Sebelumnya, partai Suu Kyi Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) memenangkan pemilu yang berlangsung November lalu. Hak itu merupakan pemilu demokratis pertama Myanmar keluar dari cengkeraman militer, yang berkuasa selama 49 tahun di negara itu pada tahun 2011.

NLD menyapu bersih pemungutan suara. Hal itu memberi harapan bagi Suu Kyi bisa memperbarui kontrak kekuasaan dengan masa jabatan lima tahun yang baru. Namun, militer selama berminggu-minggu mengeluh, pemilihan penuh kecurangan.

Militer mengklaim, telah mengungkap lebih dari 10 juta contoh penipuan pemilih. Mereka menuntut komisi pemilu yang dikelola pemerintah merilis daftar pemilih untuk pemeriksaan silang. Pekan lalu, panglima militer Jenderal Min Aung Hlaing, orang paling kuat di negara itu mengatakan, konstitusi 2008 negara itu bisa "dicabut" dalam keadaan tertentu.

Pernyataan Min Aung Hlaing tersebut mengemuka saat rumor kudeta tengah marak. Kondisi itu meningkatkan situasi ketegangan di dalam negeri, dan mendapat peringatan lebih dari belasan kedutaan asing dan PBB.

Kudeta tersebut bukanlah yang pertama. Myanmar sudah mengalami kudeta paling tidak dua kali, sejak kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1948. Yakni pada tahun 1963 dan 1988. (Jr.)**

.

Categories:Internasional,
Tags:,