7 orang Tewas tertembak saat demo anti-kudeta di Myanmar

7 orang Tewas tertembak saat demo anti-kudeta di Myanmar

Mya Thwate Thwate Khaing, demonstran pertama yang menjadi korban kebrutalan aparat Myanmar. (foto - Getty Images)

Naypyitaw  -  Unjuk  rasa  anti-kudeta  di  Myanmar  berlanjut  diwarnai  tindak  kekerasan  oleh  pasukan  keamanan, yang diperintahkan oleh junta militer untuk menembak para demonstran. Sedikitnya tujuh orang tewas tertembak dalam unjuk rasa terbaru di berbagai wilayah Myanmar.

Dilansir AFP, Kamis (11/3/2021) tekanan internasional terus meningkat sejak militer Myanmar melancarkan kudeta, yang melengserkan serta menahan pemimpin de-facto Aung San Suu Kyi pada 1 Februari lalu.

Unjuk rasa anti-kudeta digelar setiap hari dengan semakin lama semakin meluas. Sejauh ini, lebih dari 2 ribu orang ditangkap dan lebih dari 60 orang tewas dalam unjuk rasa di berbagai wilayah.

Polisi dan tentara Myanmar mengerahkan tindak kekerasan termasuk menggunakan peluru tajam, dalam menghadapi para demonstran yang beraksi secara damai. Dalam unjuk rasa terbaru di Kota Myaing, Myanmar bagian tengah sedikitnya enam orang dilaporkan tewas terkena tembakan aparat keamanan.

"Enam pria tewas tertembak, sedangkan delapan orang lainnya terluka, dan seorang pria dalam kondisi kritis," sebut petugas penyelamat setempat. Salah satu saksi mata menyatakan, ia melihat lima korban tewas di antaranya tertembak di bagian kepala.

Official detained by Myanmar junta dies in custody; police fire live  ammunition at protesters | CP24.com

Unjuk rasa anti-kudeta berlangsung di Mandalay Myanmar. (foto - Associated Press) 

 

"Kami berunjuk rasa secara damai. Saya tidak percaya mereka melakukannya," sebut seorang demonstran kepada Reuters. Demonstran berusia 31 tahun itu menyebut, dirinya membantu mengevakuasi jenazah korban ke rumah sakit.

Media lokal melaporkan, satu orang lainnya tewas dalam unjuk rasa di Distrik Dagon Utara, Yangon yang merupakan kota terbesar di Myanmar. Sejumlah foto yang diposting ke Facebook menunjukkan seorang pria tergeletak dalam posisi telungkup di jalanan, dengan darah mengalir dari cedera di kepalanya.

Jatuhnya korban jiwa dalam unjuk rasa anti-kudeta di Myanmar itu terjadi setelah Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) merilis pernyataan bersama, yang isinya mengecam penggunaan kekerasan oleh militer Myanmar terhadap para demonstran.

Pernyataan bersama Dewan Keamanan PBB itu juga mendukung transisi demokrasi dan 'menekankan perlunya menegakkan lembaga dan proses demokrasi, menahan diri dari kekerasan, sepenuhnya menghormati hak asasi manusia dan kebebasan fundamental serta menegakkan supremasi hukum'. (Jr.)**

.

Categories:Internasional,
Tags:,