Warga Gerebek Tempat Kos di Tasik Diduga Lokasi Prostitusi

Warga Gerebek Tempat Kos di Tasik Diduga Lokasi Prostitusi

Dua perempuan muda dan seorang lelaki digelandang petugas ke Polsek Tawang Tasikmalaya, Senin 15 Maret. (foto - ist)

Tasikmalaya  -  Puluhan warga  menggerebek  tempat  kos  yang  berada  di  Jalan  BKR  Kelurahan  Kahuripan  Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya, Senin 15 maret 2021 sore. Tempat kos tersebut diduga sebagai lokasi prostitusi.

Ketika melakukan penggerebekan, warga menemukan pasangan mesum (bukan muhrim) berada di salah satu kamar kos. Sedangkan di kamar lainnya di tempat kos tersebut ada seorang penghuni perempuan.

Anggota Polsek Tawang yang mendapat laporan lalu ke lokasi. Polisi pun langsung mengamankan ketiganya. Kapolsek Tawang Iptu Nandang Rokhmana menyatakan, kedua perempuan muda itu diduga PSK, dengan transaksi via chating di medsos. "Warga melapor kepada kami di tempat kos itu diduga ada praktik prostitusi via chating di media sosial," katanya.

Tarif yang ditawarkan dalam chatingan tersebut antara Rp 300 hingga Rp 500 ribu per sekali kencan. "Yang melakukan chating adalah perempuan berinisial S. Namun yang bersangkutan keburu kabur saat warga datang," tegas Nandang.

Sejauh ini, pihak kepolisian masih mendalami kasus tersebut, dengan memeriksa kedua perempuan dan seorang laki-laki yang ditengarai sebagai hidung belang.

Sementara itu, Ketua RW 06 Kelurahan Kahuripan Dedi Mulyadi mengatakan, kedatangan warga ke tempat kos itu sudah kali ketiga. Pihaknya mengaku banyak menerima laporan dari warga, di tempat kos itu ada praktik prostitusi.

"Kami sudah memberikan peringatan kepada penanggung jawab kosan karena pemiliknya tidak ada di sini. Mereka tetap mengelak jika di kosan itu tidak ada perbuatan yang menyimpang. Namun, nyatanya kami terus mendapat laporan dari warga sekitar," katanya.

Menurutnya, informasi dari warga di tempat kos itu banyak yang melakukan praktik mesum pada jam siang, karena kalau malam hari pagarnya sudah digembok. "Makanya kami datang siang-siang untuk menangkap basah dan ingin membuktikan," tegas Dedi.

Setelah didatangi dan diinterogasi, pihaknya tidak tahu apakah mereka sebagai pelaku atau bukan karena tetap tidak mengakui. "Kami juga tidak menekan mereka karena memang tidak menemukan bukti".

Selaku warga, pihaknya merasa bertanggung jawab atas keamanan lingkungan karena lokasi ini dianggap strategis. "Ada juga warga yang memancing melalui aplikasi dan kami menindak-lanjuti hasil chatting-an itu, yang muncul harga untuk satu kali kencan," katanya. (Jr.)**

.

Tags:,