WHO Sertifikasi 3 Vaksin Covid-19 untuk Syarat Haji - Umrah

WHO Sertifikasi 3 Vaksin Covid-19 untuk Syarat Haji - Umrah

WHO sertifikasi tiga vaksin Covid-19 sebagai salah satu persyaratan jamaah haji dan umrah. (foto - ilustrasi)

Jakarta  -  Vaksin Sinovac  belum disetujui  Arab  Saudi  sebagai  salah  satu  persyaratan  jamaah  haji  serta  umrah  untuk masuk ke negara mereka setelah vaksinasi. Menurut Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, hal itu dikarenakan Sinovac belum tersertifikasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Vaksinnya tersebut harus sertificated WHO. Jadi sudah disertifikasi WHO. Sementara Sinovac belum disertifikasi. Namun kalau belum itu bukan berarti tidak," katanya. Vaksin Sinovac memang belum masuk dalam daftar penggunaan darurat WHO (EUL). Baru ada tiga jenis vaksin Corona, yang sejauh ini sudah masuk daftar EUL.

Diketahui, vaksin Pfizer menjadi vaksin Corona pertama yang mendapat izin penggunaan darurat (EUL) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Hingga 31 Desember 2020 WHO menyatakan, vaksin berteknologi mRNA itu sudah bisa didistribusikan ke sejumlah negara.

"Ini langkah sangat positif untuk memastikan akses global ke vaksin Covid-19. Namun, saya ingin menekankan perlunya upaya global yang lebih besar untuk mencapai pasokan vaksin yang cukup, guna memenuhi kebutuhan populasi prioritas di mana pun," kata Dr. Mariângela Simão, Assistant-Director General for Access to Medicines and Health Products WHO.

Dilansir laman resmi WHO, Jumat 9 April 2021, WHO memastikan keamanan vaksin Corona Pfizer dengan ikut mempertimbangkan efek samping dan efikasi. Efikasi vaksin Pfizer dalam laporan terbarunya capai 94 persen, diklaim mencegah kasus asimptomatik atau tanpa gejala.

Sementara analisis terbaru yang dilakukan di Israel, vaksin Corona Pfizer diklaim 97 persen efektif mencegah simptomatik, gejala Covid-19 parah, hingga kematian akibat Covid-19.

Vaksin AstraZeneca juga ditambahkan ke dalam daftar penggunaan darurat vaksin (EUL) per 15 Februari 2021. Ada dua versi vaksin AstraZeneca, yakni yang diproduksi AstraZeneca-SKBio (Republik Korea) dan Serum Institute of India.

Kedua versi vaksin AstraZeneca tersebut telah ditinjau SAGE pada 8 Februari lalu, sekaligus rekomendasi penggunaannya diberikan untuk semua kelompok usia mulai dari usia 18 tahun ke atas.

"Produk AstraZeneca/Oxford adalah vaksin vektor virus yang disebut ChAdOx1-S (rekombinan). Itu sedang diproduksi di beberapa lokasi manufaktur, serta di Republik Korea dan India. ChAdOx1-S memiliki kemanjuran 63,09 persen serta cocok untuk negara berpenghasilan rendah dan menengah karena persyaratan penyimpanan yang mudah," sebut WHO.

Sementara itu, vaksin yang dikembangkan Johnson & Johnson juga sudah masuk dalam daftar penggunaan darurat WHO. Persetujuan tersebut diambil setelah mempertimbangkan laporan dari otoritas obat Eropa (EMA).

"Setiap alat baru, aman dan efektif melawan Covid-19 adalah satu langkah lebih dekat untuk mengendalikan pandemi," tegas Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Vaksin berdosis tunggal itu juga terbukti efektif pada populasi lansia. Minusnya sama seperti Pfizer, vaksin Johnson & Johnson perlu disimpan pada tempat minus 20 derajat, hal itu menjadi tantangan tersendiri bagi beberapa negara.

Vaksin Corona J&J vektor virus itu diklaim efektif hingga 66,3 persen secara keseluruhan, dan efektivitas dalam uji vaksin di AS mencapai 74,4 persen, 100 persen ampuh mencegah kasus rawat inap dan kematian akibat Covid-19. (Jr.)**

.

Categories:Internasional,
Tags:,