Bandung Memastikan Tidak Ada (Nol) Klaster PTM Terbatas

Bandung Memastikan Tidak Ada (Nol) Klaster PTM Terbatas

Sekda Kota Bandung Ema Sumarna saat tinjau simulasi PTM di SD Santo Yusup 2 Bandung. (foto - ilustrasi)

Bandung  -  Sekretaris  Daerah  Kota  Bandung  Ema  Sumarna  memastikan,  tak  ada  klaster  Covid-19  dari pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) di wilayah Kota Bandung. Berdasarkan catatan, kasus penularan Covid-19 di penyelenggara pendidikan nol kasus sejak PTM pertama digelar.

"Kota Bandung nol kasus, artinya tidak ada istilahnya klaster di sekolah yang menyelenggarakan PTM terbatas," kata Ema, Kamis 23 September 2021.

Mengenai soal antisipasi jika terjadi klaster PTM Ema menyatakan, teknis penanganan sudah tertulis dalam juklak dan juknis penyelenggaraan PTM. Misalnya, jika terjadi kasus penularan, Satgas Covid-19 tingkat sekolah harus langsung bertindak dibantu tenaga kesehatan dari puskesmas setempat.

"Sudah diatur pada juklak juknis kita, setiap Satgas harus ada di setiap penyelenggara pendidikan dan diback-up puskesmas, sehingga penanganannya bisa langsung dilaksanakan," tegasnya.

Sementara itu, seperti diketahui Kemendikbudristek mencatat sebanyak 1.296 sekolah tercatat menjadi klaster PTM Covid-19. Namun, kasus penularan Covid-10 di satuan pendidikan itu dianggap masih relatif kecil, yakni hanya 2,8 persen dari total 46.580 sekolah yang menggelar PTM.

"Sekolah yang mulai melakukan PTM terbatas sebanyak 46.580 satuan pendidikan, sedangkan jumlah laporan dari satuan pendidikan terkait penularan Covid-19 di satuan pendidikan relatif kecil, yaitu 2,8 persen atau 1.296," kata Dirjen Pauddikdasdikmen Kemendikbudristek Jumeri.

Meski demikian, Jumeri meminta protokol terkait adanya klaster di sekolah harus diperketat, jika ada kasus di sekolah maka harus ditutup untuk beberapa waktu. Aturan itu sudah jelas teratur dalam SKB 4 menteri, terkait pelaksanaan PTM terbatas.

"Termasuk di dalamnya pemerintah daerah menutup sekolah, menghentikan PTM terbatas, melakukan testing, tracing dan treatment jika ada temuan kasus positif Covid-19," katanya.

Pemerintah juga memahami kondisi setiap sekolah dan wilayah di Indonesia sangat beragam, sehingga tidak mungkin disamaratakan. Sekolah akan tetap melayani murid sesuai dengan kesanggupannya untuk bisa mengikuti model pembelajaran yang sesuai, baik itu PTM terbatas dan PJJ.

"Anak-anak bisa tetap belajar dari rumah jika orangtua belum yakin dan belum memberikan izin untuk mengikuti PTM terbatas. Saya tekankan, tidak ada proses menghukum atau diskriminasi bagi anak-anak yang belajar dari rumah," kata. **

.

Categories:Pendidikan,
Tags:,