KBRI Ajak Guru dan Siswa di Australia Kenali Budaya Sunda

KBRI Ajak Guru dan Siswa di Australia Kenali Budaya Sunda

Guru, pelajar dan mahasiswadi Canberra Australia larut dalam permainan alat musik angklung dalam gelaran 'Sundanese Day'. (foto - KBRI Canberra)

Canberra  -  Dalam  rangka  merayakan  Hari  Angklung  se-Dunia  yang  jatuh  pada  16  November,  pihak  KBRI Canberra mengajak-serta para guru sekolah, pelajar dan mahasiswa di Ibukota Australia itu untuk lebih mengenal budaya Sunda.

"Sundanese Day" yang diselenggarakan, pada Selasa 16 November itu antara lain diisi dengan penampilan tari Bajidor Kahot yang dibawakan oleh kelompok penari Borobudur Dance.

Selain itu, mereka pun menonton film mengenai budaya Sunda, lokakarya angklung yang diakhiri dengan menikmati makanan khas Sunda bersama.

"Indonesia sangat kaya akan budaya, kami memiliki ratusan etnis dengan budaya dan bahasa daerah yang beragam. Sunda adalah salah satu suku dari ratusan suku yang ada di Indonesia," kata Wakil Duta Besar RI untuk Australia Mohammad Syarif Alatas dalam keterangan tertulisnya, Rabu 17 November yang dikutip, Jumat 19 Novembr 2021.

Syarif berharap, acara budaya tersebut bisa memperkuat hubungan antar-masyarakat, khususnya warga Indonesia dan Australia.

Sementara itu Atase Pendidikan dan Budaya RI di Canberra Mukhamad Najib mengatakan, kegiatan itu sengaja diselenggarakan untuk memperkenalkan budaya Sunda kepada guru-guru di Canberra.

"Selama ini umumnya guru dan siswa di Australia sangat mengenal Bali dan Yogyakarta. Padahal Indonesia sangat luas dan sangat kaya akan ragam budaya, sehingga penting untuk mengenalkan budaya lain seperti Sunda kepada pada guru dan siswa," katanya.

Ke depannya, KBRI Canberra akan secara rutin mengenalkan budaya dari seluruh provinsi di Indonesia kepada masyarakat Australia.

"Setiap daerah di Indonesia memiliki keunikan sendiri yang menarik dan patut dikenalkan pada masyarakat dunia. Kami akan berusaha mengekspos semua itu kepada masyarakat Australia, agar mereka mengenal lebih banyak budaya Indonesia dari suku yang ada," tegas Najib.

Para peserta yang berpartisipasi pun menunjukkan antusiasmenya untuk mengenal budaya Sunda. Margo Smith, seorang guru di Saint Clair Primary School mengatakan, dirinya tertarik untuk mempelajari lebih banyak lagi budaya Indonesia.

Budaya Sunda menurutnya, termasuk hal yang baru meski dia mengaku sudah mengetahui angklung sejak lama. Namun baru kali ini memainkannya secara langsung dan bersama-sama menyelesaikan satu lagu.

"Tolong undang saya lagi pada acara berikutnya, saya akan senang sekali untuk datang karena saya senang belajar lebih banyak tentang budaya Indonesia," kata Smith.

Sementara Zack, dari Australia Indonesia Youth Association mengatakan, ia sangat senang dengan acara yang disebutnya bisa semakin memperkaya wawasannya tentang Indonesia.

"Saya pikir kegiatan ini perlu dilanjutkan agar warga Australia terutama anak-anak mudanya, makin mengenal dan merasa dekat dengan Indonesia," kata Zack.

Dalam acara itu, selain menikmati makanan Sunda seperti soto mie Bogor dan batagor Bandung, para guru pun diajak memainkan angklung bersama.

Dipandu instruktur angklung KBRI Canberra Rubby Alburhani, para guru belajar mengenal nada dalam angklung dan bersama-sama memainkan lagu-lagu sederhana yang mereka kenal.

Di akhir acara, para peserta memainkan angklung sambil bernyanyi bersama lagu "Falling in Love" yang dipimpin oleh Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Canberra Ghofar Ismail.

Seperti diketahui, alat musik tradisional Sunda, angklung telah ditetapkan sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia oleh UNESCO, pada 16 November 2010. Sejak saat itu, tanggal 16 November diperingati sebagai Hari Angklung Sedunia. **

.

Categories:Internasional,
Tags:,