Film :Senyap" Dihentikan Pemutarannya di Yogya

Film :Senyap

Joshua Oppenheimer sebelumnya mendapat berbagai penghargaan untuk film sebelumnya, Jagal.

Yogyakarta- Beberapa acara pemutaran film "Senyap", yang berkisah mengenai pembunuhan masa 1965 silam, dihentikan secara paksa oleh sejumlah organisasi masyarakat di Yogyakarta.
 
Karena khawatir memicu konflik, Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta meminta pihak-pihak yang memutar film tersebut menunda penayangan. Namun,sikap aparat tersebut justru dikeluhkan aktivis HAM.
 
Sedikitnya tiga lokasi acara pemutaran filmSenyap -atau The Look of Silence,karya sutradara Joshua Oppenheimer- di Yogyakarta pada Rabu (17/12/2014) lalu didatangi puluhan anggota organisasi masyarakat yang memaksa acara dihentikan.
 
Ketiga lokasi itu, yakni Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia (ISI), Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada, dan Kafe Memoar di Sleman.
 
Sekretaris Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta, Rochimawati, selaku saksi mata aksi pembubaran di UGM, menyaksikan 20 orang datang sembari berteriak-teriak meminta film tidak ditayangkan lagi.
 
“Saat itu, film sebetulnya sudah selesai diputar dan acara akan berlanjut dengan sesi diskusi. Namun, akhirnya pihak kampus sepakat untuk tidak lagi meneruskan diskusi,” kata Rochimawati kepada wartawan BBC .
 
Kehadiran massa tidak diundang juga terjadi saat pemutaran film akan berlangsung di Kafe Memoar.
Salah seorang pemilik kafe, Iman Ramadan, mengaku massa berjumlah 12 orang tersebut mengancam membubarkan tamu, mengobrak-abrik, hingga membakar kafe jika pemutaran film dilanjutkan.

Alasan kekhwatiran konflik

Kepolisian Daerah Yogyakarta mengkhawatirkan konflik akan muncul akibat pemutaran film tersebut. Oleh karena itu, Kabid Humas Polda Daerah Istimewa Yogyakarta AKBP Ani Pudjiastuti mengimbau agar pemutaran film tidak dilaksanakan.
 
“Kami sama sekali tidak punya kewenangan untuk melarang (pemutaran film). Namun, dengan adanya ancaman-ancaman, kami berupaya agar konflik tidak muncul atau hal-hal yang tidak diinginkan."
 
Manakala pihak intelijen kami menangkap adanya ancaman-ancaman, tentu kami akan berkoordinasi dengan pelaksana agar bagaimana kegiatan ini untuk sementara tidak usah dilaksanakan dulu,” tambah Ani.
 
Meski demikian, Gerakan Literasi Indonesia (GLI), sebagai salah satu pihak yang berencana memutar film Senyap di Yogyakarta, menegaskan akan tetap melaksanakan kegiatan mereka.
 
“Kami memutuskan untuk menjadwalkan ulang waktu dan tempat pemutaran film. Karena ini adalah bentuk apresiasi karya sekaligus bentuk pendidikan sejarah. Kami menganggap tidak ada suatu unsur ideologis tertentu terhadap penonton,” kata Sekretaris Umum GLI, Sofwan Hadi.

Peran aparat?

Pegiat lembaga Human Rights Working Group (HRWG), Choirul Anam, menilai ada dua masalah utama dalam penutupan paksa pemutaran film Senyap.
“Pertama, adanya syiar kebencian dari kelompok-kelompok yang itu-itu saja. Kedua, politik keagamaan di ruang publik yang menurut saya sudah di luar batas,” kata Choirul.
 
Dari kedua masalah itu, lanjut Choirul, masalah paling serius adalah tidak berjalannya aparat penegak hukum dalam menertibkan kelompok-kelompok penebar kebencian.
 
“Padahal, polisi punya perangkat yang cukup untuk mendeteksi kelompok-kelompok tersebut,” ujarnya.
 
Senyap -bisa disebut sebagai seri kedua karya sutradara asal Amerika Serikat, Joshua Oppenheimer, terkait pembunuhan massal 1965- mengisahkan stigma dan ketakutan yang dirasakan sebuah keluarga sejak peristiwa pembantaian pada 1965 silam.
Film sebelumnya, The Act of Killing atau Jagal, mengangkat peristiwa pembunuhan 1965 itu dari dari sudut pandang pelaku- yang mendapat berbagai penghargaan internasional.(Ode)**
.

Categories:Film,
Tags:film,