Keelokan Karya Fesyen Tiga Negara Nan Menawan

Keelokan Karya Fesyen Tiga Negara Nan Menawan

karya Toera Imara, Iva Lativah, dan Irni Resmi

Bandung-  Pergelaran fesyen di Museum Konfrensi Asia Afrika? Untuk pertamakalinya ajang fesyen bersenteuhan dengan museum. Itu terjadi di Bandung dalam rangka Milad ke 18 Ikatan Perancang Busana Muslim (IPBM) Cabang Jawa Barat.
 
Lazimnya, museum Konfrensi Asia Afrika dikenal dengan peristiwa diplomasi. Jika malam itu, IPBM  mampu menerobos museum, itu adalah prestasi tersendiri yang dicapainya. Maklum, selama ini IPBM paling langganan karya-karyanya ditampilkan di hotel berbintang. 
 
“Ya ini memang proyek kerjasama antara Museum KAA dan IPBM untuk mempersembahkan sesuatu yang berbeda,” ujar Kepala Museum KAA Thomas A Siregar, diacara jumpa pers belum lama ini.
Menurutnya museum tak hanya bersentuhan dengan urusan politik dan militer, lewat soft power seperti kuliner, tarian, hingga busana yang bernaung di dalam budaya, bisa pula memuat beragam keunikan kreasi lewat busana Muslim.
 
12 perancang busana Muslim  di antaranya karya Toera Imara, Iva Lativah, Ernie Kosasih, Iesye Asyifa, Anti Dewi , Ani Cebe atau Ani Setiani , Errin Ugaru, Meeta Fauzan, Ahmad Zaki,  Henny Noer , Lisma D Gumilar, dan Irni Resmi.
 
Uniknya feseyn yang ditampilkan mencerminkan perwakilan 12 negara yang terlibat dalam Konfrensi Asia Afrika kala itu.
  
Pun rancangan yang ditampilkan sekaligus mencerminkan tren fesyen di tahun 2015.
 
Membuka panggung, karya Toera Imara dengan tema “The Beauty of Silk Road” menyita perhatian. 
Lampion khas Cina ditangan para model, konon terinspirasi  dari keindahan arsitektur negeri tirai bambu itu. Penggunaan warna magenta, hijau emerald, dan biru amat kontras di atas sapuan bahan chinese silk, thompson silk, fancy brocade, dan batik Cirebon. Toera cukup berani mengkombinasi karyanya.
 
Iva Lativah membidik Negara tetangga Malaysia menjadi inspirasinya. Keseringan mengadakan pergelaran busana di Malaysia, menjadi kunci karyanya tahun ini. Bahan-bahan sutra, dan warna-warna cerah seperti merah, abu, kuning, dan hitam memberi sentuhan kemewahan di atas bahan sutra pilihan.
 
Sementara karya Irni Resmi, bertema “No More Black Rainy Nights”. Terinspirasi dari beberapa hal dengan dua sifat yang berbeda, yaitu budaya kain tradisional yang ekspresif  dan atraktif sementara yang lainnya bersifat dingin seperti kelamnya tengah malam disertai rintik hujan. Saling melengkapi adalah ajakan untuk mengenal karyanya kali ini.
Penggunaan warna-warna cerah yang selama ini menjadi khas Irni, masih tampak kuat. Padupadan tak hanya warna tetapi juga garis model dari negara Filipina yang menawan. (Ode)**  
 

 

.

Categories:Fesyen,
Tags:fesyen,