Walikota Harus Kuasai Manajemen Cinta

Walikota Harus Kuasai Manajemen Cinta

Walikota Bandung, Ridwan Kamil lengkap dengan seragam Walikota. (Foto : ADE)

Bandung – Agar seorang walikota bisa membawa kotanya menjadi maju dan masyarakatnya sejahtera, jiwa penguasa harus bisa dikalahkan dengan manajemen cinta. Jika seorang ingin jadi walikota atau kepala daerah hanya ingin mendapat kekuasaan saja, maka otomatis kepemimpinannya akan otoriter dan kebijakannya tidak pro rakyat.
 
Menurut Walikota Bandung, Ridwan Kamil, seorang yang ingin menjadi walikota harus paham manajemen cinta. Dengan cinta terhadap kotanya sendiri maka kepemimpinannya akan penuh cinta baik ke warganya atau ke kota yang dipimpinnya.
 
“Jadi walikota itu terbilang penuh resiko, selain resiko politik, kinerja walikota itu harus baik agar tidak dicari kesalahannya dan diinterpelasi oleh DPRD,” kata Ridwan Kamil di Plaza Balai Kota, Jl. Wastukancana, Kota Bandung, Kamis (22/01/2015).
 
Ridwan Kamil mengaku, menjadi walikota itu bisa terbilang ngeri dan tidak tenang jika kinerjanya dinilai buruk.
 
“Kadang ada pihak-pihak yang mencari kesalahan walikota, ada kesalahan atau ketelatan pengerjaan proyek dari kontraktor walikota yang disalahkan. Salah prosedur sedikit hukum selalu menunggu,” akunya.
 
Dengan manajemen cinta, Ridwan Kamil merasa mampu memimpin Bandung hingga 2018 mendatang.
 
“Saya bisa terus hidup memimpin Bandung, karena paham manajemen cinta, yaitu cinta Kota Bandung, dan cinta masyarakat. Saya jadi walikota itu ingin membenahi Kota Bandung, bukan jadi penguasa,” serunya. (AY) 
.

Categories:Bandung,
Tags:bandung,