Dalam langkah yang tegas untuk memodernisasi kemampuan tempurnya, Angkatan Darat India sedang mendirikan unit perang drone khusus yang dikenal sebagai “resimen Shaktibaan”.
Formasi khusus ini dirancang untuk melengkapi pasukan dengan teknologi swarm drone canggih dan kemampuan serangan presisi, menandai pergeseran signifikan dalam doktrin militer India.
Bridging the Operational Gap
Objektif utama dari resimen Shaktibaan adalah untuk meningkatkan kemampuan Angkatan Darat dalam menyerang target di berbagai jarak. Menurut pejabat pertahanan, unit-unit ini akan meliputi spektrum operasional dari jarak serendah lima kilometer hingga jarak serangan dalam hingga 500 kilometer.
Inisiatif ini mengatasi “middle ground” kritis dalam kekuatan tembak Angkatan Darat. Secara historis, target dalam jarak 50 hingga 500 kilometer merupakan tanggung jawab Angkatan Udara atau komando rudal jarak jauh.
Dengan mengintegrasikan kemampuan ini langsung ke dalam strukturnya sendiri, Angkatan Darat bertujuan untuk menjembatani kesenjangan antara keterlibatan taktis jarak pendek dan serangan rudal strategis, memastikan waktu respons lebih cepat dan fleksibilitas operasional yang lebih besar.
Struktur dan Peralatan
Resimen Shaktibaan akan diangkat di bawah komando Resimen Artileri. Restrukturisasi ini mewakili langkah menjauh dari memperlakukan drone hanya sebagai alat bantu, bukan sebagai aset ofensif inti.
Resimen ini akan dilengkapi dengan kumpulan sistem tak berawak yang formidabel, termasuk:
- Swarm Drones: Mampu mengatasi sistem pertahanan udara musuh melalui serangan yang terkoordinasi.
- Loitering Munitions: Sering disebut sebagai “kamikaze drones,” ini dapat mengudara di area target untuk periode yang diperpanjang sebelum melakukan serangan dengan presisi tinggi.
- Long-Range Unmanned Aerial Vehicles (UAVs): Dirancang untuk surveilans dalam dan menyerang target berharga jauh di belakang garis musuh.
Laporan menunjukkan bahwa antara 15 dan 20 resimen tersebut direncanakan. Unit-unit awal sudah dioperasikan, menandakan bahwa proyek ini cepat bergerak dari tahap perencanaan ke tahap eksekusi aktif.
Untuk mempercepat penyediaan perlengkapan bagi pasukan-pasukan ini, Angkatan Darat dilaporkan menginisiasi Prosedur Cepat (FTP) untuk memperoleh sekitar 850 amunisi pengendali dan peluncur terkait dari produsen dalam negeri.
A Tech-Driven Transformation
Transformasi doktrin ini dipimpin oleh Panglima Angkatan Darat, Jenderal Upendra Dwivedi. Visinya difokuskan pada mempersiapkan Angkatan Darat India untuk medan perang masa depan di mana teknologi, bukan sekadar jumlah pasukan, menentukan hasil.
Efektivitas drone dalam konflik global terkini—khususnya kemampuannya untuk menyediakan surveilans real-time dan melaksanakan serangan presisi—telah menjadi motor penggerak di balik keputusan ini.
Inisiatif Shaktibaan ini adalah bagian dari ekosistem modernisasi yang lebih luas. Selain resimen-resimen ini, Angkatan Darat juga sedang menaikkan “baterai Divyastra” (unit drone terintegrasi) di dalam divisi artileri dan “pleton Ashmi” di level batalyon infanteri. Selain itu, sebuah pasukan operasi khusus baru, “Bhairav,” sedang dilatih khusus untuk operasi drone berisiko tinggi.
Dengan menyandarkan kemampuan-kemampuan ini pada industri dalam negeri, dengan keterlibatan yang diharapkan dari perusahaan-perusahaan pertahanan India terkemuka, Angkatan Darat juga sedang memperkuat dorongan negara untuk mandiri dalam bidang manufaktur pertahanan.
Diangkatnya resimen Shaktibaan menandakan era baru bagi Angkatan Darat India.
Dengan mengintegrasikan teknologi masa depan seperti swarm drone dan amunisi pengendali ke dalam kerangka artileri intinya, pasukan ini memastikan agar tetap gesit, mematikan, dan siap menghadapi perang-perang masa depan yang intensif dan didorong oleh teknologi.





